Rabu, 16 Oktober 2013

Cita-Cita Masa Dulu dan Masa Kini

       Hello, kali ini saya ingin mempostingkan tentang cita-cita saya masa dulu. Dari saya masa kecil, masa anak-anak saat sekolah SD, masa remaja awal saat SMP, masa remaja madya saat SMA, dan masa kini, masa remaja akhir yang dalam proses tahap pendewasaan di bangku kuliah menjadi mahasiswa. Setiap orang tentu pernah melewati masa kecilnya, masa dimana bermain dan bermain. Saat saya kecil, waktu ber sekolah dasar (SD) saya mempunyai cita-cita ingin menjadi pilot. Ingin mengendarai dan menaiki pesawat lalu keliling dunia.
       Kemudian beranjak ke masa remaja awal saat saya SMP, cita-cita saya pun mulai berganti karena melihat, menilik berbagai macam profesi-profesi yang ada. Ketika itu cita-cita saya mulai bertambah, saya ingin menjadi dokter, akuntan, duta/ diplomat. Kenapa waktu itu saya ingin menjadi dokter? Karena saya ingin membantu menolong orang dan saya tertarik dengan pelajaran biologi. Tapi cita-cita dokter itu saya rampungkan karena saat itu ibu saya bilang untuk jadi dokter itu memerlukan biaya yang cukup mahal, buku pelajaran yang tebal dan banyak, dan satu lagi yang membuat saya menjadi takut dan ga berani adalah melakukan praktek dengan mayat dan pasti akan masuk ke ruang mayat kata ibu saya saat itu. Waktu kecil saya pernah di rawat di Rumah Sakit dan saya pernah kesasar, masuk ke ruangan mayat. Maka karena itu, akhirnya saya redamkan cita-cita saya untuk menjadi dokter. Lalu, kenapa dari dokter banting setirnya ke akuntan sen? Ini karena waktu SMP ada mata pelajaran muatan lokal Jasa Pembukuan dan saya suka, senang dengan pelajaran itu. Seru, asik, menyenangkan berkutat dengan nominal-nominal angka. Seolah-olah ketika saya mengerjakan tugas-tugas Jasa Pembukuan tersebut, cerita-cerita laporan keuangan perusahaan atau perdagangan seakan-akan milik saya, seakan-akan saya sedang bekerja di perusahaan tersebut. Nah, kalo cita-cita duta/ diplomat dari mana tu datengnya? Karena waktu itu saya menonton televisi dan membaca majalah yang menceritakan tentang duta/ diplomat. Menurut saya sepertinya seru juga kalo menjadi duta/ diplomat. Bisa kerja di negeri orang/ keluar negeri, jalan-jalan, berinteraksi, berhubungan, bersosialisasi dengan orang asing itu menurut saya menarik. Tentu saja bisa mempelajari kultur suku budaya nya juga itu menyenangkan. Ada tapinya, saya lemah dalam berbahasa Inggris, kurang ahli, tidak terlalu jago. Maka akhirnya saya rampungkan juga cita-cita saya sebagai duta/ diplomat.
       Beranjak ke masa SMA, dimana masa-masa sedang bandel bandelnya, males-malesan, ingin mencoba segala hal. Tentu di masa SMA ini saya masih punya cita-cita keinginan saya. Saat kelas X saya memiliki cita-cita menjadi dokter gigi, akuntan, ahli statistik. Kenapa dokter gigi? Karena saat itu saya masih belum berani untuk menjadi dokter umum karena masih terbayang dengan ruang kamar mayat dan mayatnya. Jadi saya memilih menjadi dokter gigi dan saya memiliki keinginan untuk memperbaiki rangka struktur gigi saya. Rangka struktur gigi saya yang berantakan, yang membuat termotivasi untuk menjadi dokter gigi. Dan saya senang untuk mengobrol, berkomunikasi, berbicara dengan orang-orang. Lalu ahli statistik dari mana? Karena waktu SMP saya suka pelajaran matematika dan Jasa Pembukuan dan ingin menjadi ahli statistik karena saya suka menstatistik data, menghitung-hitung, mengumpulkan sample data dan mengolahnya. Akuntan kelanjutan cita-cita dari SMP yang masih saya pertahankan.Tapi, di SMA kelas X pertengahan semester Genap cita-cita saya menjadi Akuntan mulai memudar karena kemampuan pelajaran Ekonomi saya yang pas-pasan. Apalagi tentang Pajak, saya tidak ahli, lemah dalam Perpajakan. Naik ke kelas XI, saya masuk di jurusan IPA. Ketika itu cita-cita saya masih tetap dengan dokter gigi dan ahli statistik. Namun, ketika di pertengahan semester Ganjil cita-cita saya menjadi dokter gigi pun saya redamkan dikarenakan biaya peralatan dan perawatannya yang mahal. Kemudian di pertengahan semester Genap cita-cita saya menjadi ahli statistik pun saya rampungkan, karena pelajaran Matematika yang saat itu semakin sulit dan sukar. Lalu muncul lah cita-cita saya yang baru, cita-cita ini saya lihat berdasarkan pilihan jurusan saya kuliah nanti dan ada dasar statistikanya, yaitu Ilmu Pepustakaan, Kesejahteraan Sosial, dan Psikologi. Sayapun mulai tertarik dengan Pariwisata, Sastra Perancis dan Sastra Indonesia. Karena menurut saya mempelajari Sastra dan Bahasa sepertinya seru. Ketika naik ke kelas XII, saya mulai memilih-milih jurusan yang saya inginkan saat kuliah nanti. Banyak pilihan jurusan yang saya pilih. Dari yang Sosial, seperti: Akuntansi, Ilmu Administrasi, Ilmu Perpustakaan, Kesejahteraan Sosial, Pariwisata/ Ekowisata, Antropologi, Psikologi. Bahasa dan Sastra, seperti: Sastra Perancis, Sastra Cina, Sastra Indonesia. Sampai yang Sains Teknologi, seperti: Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota, Arsitektur Lansekap, Teknik Industri, Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, Teknik Geologi, Teknik Perkapalan, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Gizi, Biologi, Geografi, Oseanografi. Semua tesPerguruan Tinggi Swasta dan Perguruan Tinggi Negeri saya ikuti dengan beberapa pilihan jurusan diatas. Dari program beasiswa President University, beasiswa IBII, SNMPTN, SIMAK UI, UMB PT, SPMB UNSOED, dan terakhir tes reguler Universitas Gunadarma.
       Walaupun saya tidak di terima di Perguruan Tinggi Negeri yang saya pilih seperti, UI, IPB, ITB, UNSOED, dan UNDIP dengan berbagai jurusan yang ada diatas, ternyata Tuhan mempunyai rencana yang indah untuk saya. Dengan kebimbangan dan kebingungan saja sejak pemilihan jurusan dan PTN, ditambah lagi saya tidak di terima PTN, Tuhan telah menunjukkan jalan yang terbaik bagi saya. Ya, saya akhirnya bisa kuliah merasakan menjadi mahasiswa di Perguruan Tinggi Swasta, yaitu Universitas Gunadarma dengan jurusan Psikologi. Dari semua pilihan jurusan yang ada diatas dan ternyata jurusan Psikologi lah yang sesuai dengan saya yang telah tuhan rencanakan dan berikan. Walaupun swasta, bagi saya itu sama saja antara swasta dengan negeri. Karena itu semua balik lagi ke kitanya apakah kita bisa bersungguh-sungguh menjalankannya untuk mencapai kesuksesan itu. Saya merasa nyaman, tertarik, dan enjoy dengan jurusan Psikologi. Inilah Passion/ Minat saya. Saya bisa menjalaninya dengan santai, tapi tetap serius. Keluhan, beban-beban yang dihadapi terasa hampir tidak ada, karena saya cocok dengan jurusan Psikologi. Di jurusan Psikologi ini prestasi saya dapat dibilang lumayan baik dan saya sangat bersyukur, di semester 1 dan semester 2 hasil indeks prestasi saya bisa mencapai angka 3, XX (demi keamanan privasi). Saya menjalani dan mengatur waktu kegiatan masa perkuliahan dengan sebaik mungkin walaupun saya masih mempunyai berbagai aktifitas kegiatan di dalam kampus dan di luar kampus.
       Saya pun kini telah menjalani aktifitas dunia kampus perkuliahan dan menjadi mahasiswa. Tentu cita-cita saya berhenti dan padam begitu saja. Saya masih mempunyai cita-cita lagi, yang membuat saya termotivasi untuk maju dan mengembangkan segala hal, dari bakat, potensi, minat dan lainnya. Karena saya lemah, tidak ahli dan kurang jago dalam berbahasa Inggris, maka saya tertantang di dunia perkuliahan ini untuk bisa melatih, mengembangkan, mengeksplor bahasa Inggris saya demi cita-cita saya untuk Go Internasional. Saya memiliki cita-cita untuk bekerja di sebuah perusahaan asing dan bisa keliling Eropa. Kemudian saya ingin mengembangkan potensi bakat dan minat saya dalam hal penelitian dan bekerja di luar negeri. Cita-cita saya yang lainnya yaitu saya ingin menjadi Psikolog. Menjadi Psikolog tidak hanya sekedar mengambil profesi dan langsung praktek saja, tapi saya ingin menjadi Psikolog yang handal dan berkompeten agar saya bisa membantu, menolong orang-orang dan lingkungan sekitar saya dan hasilnya agar mereka merasa nyaman dengan saya. Untuk peminatan/ spesialis, saya belum bisa menentukan yang pasti, masih silih berganti, mencari-cari yang sesuai. Tapi saya mempunyai beberapa pilihan, yaitu antara Psikologi Klinis, Psikologi Pendidikan, Psikologi Sosial, Psikologi Industri dan Organisasi (PIO), Psikologi Eksperimen. Mungkin saya akan memilih dua spesialis peminatan yang membuat saya sangat tertarik antara pilihan-pilihan itu. Saya percaya Tuhan pasti akan menunjukkan yang terbaik bagi saya untuk nantinya, untuk kedepannya, untuk masa depan saya dan untuk karier, keluarga, dan kehidupan saya kelak nantinya.
       Oh iya, psikologi mempunyai 4 gelar, yaitu S. Psi. ; M. Si. ; M. Psi. ; M. Psi. T. Nantinya lulusan S1 Psikologi dengan gelar S. Psi. itu bukan Psikolog, melainkan Sarjana Psikologi. Sebutan Psikolog itu hanya untuk orang-orang yang lulusan Sarjana Psikologi (S. Psi.) kemudian lanjut kuliah S2 mengambil Profesi (M. Psi. atau Psikolog), kuliah lagi selama 2 tahun untuk latihan prakteknya. Profesi Psikolog (M. Psi.) boleh melakukan praktek tes-tes pengukuran psikologis, melakukan assessment (pengiraan), treatment (penanganan/ tindakan), intervensi, konseling, sedangkan Sarjana Psikologi (S. Psi.), Psikologi Sains (M. Si.), dan Psikologi Terapan (M. Psi. T.) tidak boleh melakukan praktek hal-hal tersebut.  Lulusan Sarjana Psikologi nantinya bisa bekerja untuk urusan HRD di kantor, urusan administrasi tes psikologis/ jadi asisten psikolog, observasi / wawancara orang sebagai jurnalis, guru TK, guru BK, dosen, dan lainnya. Nah untuk gelar Magister Psikologi Terapan (M. Psi. T.) adalah untuk melakukan training-training/ intervensi terapan kepada masyarakat lewat terapan ilmu psikologinya. Gelar ini boleh diambil dari lulusan sarjana jurusan apapun dan kuliahnya juga 2 tahun. Contoh keilmuan M. Psi. T. adalah psikologi kesehatan, psikologi anak usia dini, psikologi intervensi sosial, psikologi olahraga, psikologi perdamaian, dan lainnya, sebab M. Psi. T. adalah terapan psikologi untuk masyarakat luas. Jadi mereka bisa bikin sekolah, konsultan untuk NGO, dan lainnya. Dan yang terakhir adalah gelar M. Si. (Magister Sains), kalau di luar negeri M. Sc. Gelar ini untuk belajar tentang ilmu psikologi, jadi jadi ilmuwan alias scientist, melakukan penelitian-penelitian. Sama seperti M. Psi. T. gelar ini bisa diambil dari lulusan sarjana jurusan apapun dan kuliahnya pun juga 2 tahun. Walaupun ada Sarjana Psikologi (S. Psi.) yang mengambil gelar Master Sains (M.Si. atau M. Sc.), tapi tetap mereka tidak boleh melakukan praktek.
       Itulah informasi dan cita-cita saya dan semoga cita-cita saya, keinginan saya, mimpi-mimpi saya yang kini dan masa depan yang akan mendatang dapat terwujud secara perlahan-lahan. Terima kasih saya ucapkan untuk kalian yang telah mengunjungi dan membaca blog ini.
Referensi: http://heyinishanti.blogspot.com/2011/08/tentang-gelar-gelar-dari-fakultas.html

1 komentar:

Pak wendi mengatakan...

Awalnya aku hanya mencoba main togel akibat adanya hutang yang sangat banyak dan akhirnya aku buka internet mencari aki yang bisa membantu orang akhirnya di situ lah aku bisa meliat nmor nya AKI NAWE terus aku berpikir aku harus hubungi AKI NAWE meskipun itu dilarang agama ,apa boleh buat nasip sudah jadi bubur,dan akhirnya aku menemukan seorang aki.ternyata alhamdulillah AKI NAWE bisa membantu saya juga dan aku dapat mengubah hidup yang jauh lebih baik berkat bantuan AKI NAWE dgn waktu yang singkat aku sudah membuktikan namanya keajaiban satu hari bisa merubah hidup ,kita yang penting kita tdk boleh putus hasa dan harus berusaha insya allah kita pasti meliat hasil nya sendiri. siapa tau anda berminat silakan hubungi AKI NAWE Di Nmr 085--->"218--->"379--->''259

Posting Komentar

 
;