Jumat, 21 Desember 2012

Manfaat Belajar Filsafat


Dalam buku Politics karya Aristoteles, diceritakan tentang orang-orang yang mengolok Thales, filsuf dan ahli astronomi dari Miletus (Yunani), karena ia miskin. Filsafat, kata mereka, tidak bermanfaat bagi Thales. Buktinya, dia miskin. Tetapi Thales tak terpengaruh dengan ejekan tersebut, karena bagi dia, filsafat jelas-jelas bermanfaat. Dia menunggu waktu yang baik untuk membuktikannya.
Sebagai ahli astronomi, Thales mengetahui bahwa tahun berikutnya panen zaitun melimpah. Ketika musim dingin masih berlangsung, dia menggunakan sebagian uangnya untuk memborong semua mesin press zaitun di kota Miletus dan Chios. Tentu saja mesin-mesin itu dibeli dengan harga murah. Begitu panen raya zaitun tiba, permintaan akan mesin press zaitun melonjak. Tapi stok di toko-toko habis, sudah diborong Thales.  Thales menyewakan mesin-mesin press itu dengan tarif tinggi dan meraup keuntungan berlipat-lipat. Dengan itu dia mau membuktikan bahwa filsuf pun bisa jadi kaya raya kalau dia mau. Kalau selama ini dia kelihatan miskin, itu karena dia memang mau begitu. 

Cibiran terhadap filsafat juga masih kita temukan di lingkungan kita, termasuk kalangan akademis. Franz Magnis-Suseno, guru besar filsafat dari STF Driyarkara, Jakarta, menceritakan pengalamannya sebagai berikut:

“Kalau saya memperkenalkan diri sebagai dosen filsafat pada seorang anggota elite intelek Indonesia yang betul-betul ahli dalam salah satu bidang ilmiah, tak jarang saya mencium reaksi yang dia mau merahasiakannya, yaitu suatu pertanyaan skeptis tentang di mana tempat kesibukan filsafat dalam kalangan ilmu-ilmu, dan apa kita di Indonesia tidak sebenarnya memerlukan ahli-ahli yang sungguh-sungguh, misalnya di bidang kedokteran, teknologi, ekonomi, dan sebagainya daripada filosof”. (Magnis-Suseno: 1991)

Masyarakat yang berorientasi kerja, cenderung mengejar ilmu yang mempunyai manfaat praktis, seperti ekonomi, psikologi, teknik. Dalam iklan-iklan di media massa, jarang kita menemukan sarjana filsafat sebagai syarat untuk melamar suatu pekerjaan. Kemakmuran dan sukses hidup tak dapat dipisahkan dari materi dan uang. Filsafat dianggap tidak praktis, kurang bermanfaat, tak dapat diterapkan dalam hidup sehari-hari, hanya cocok bagi calon pastor atau pendeta. Belajar filsafat dianggap sia-sia, buang-buang waktu, mahasiswa hanya jadi calon penganggur.
Thiroux dan Woodhouse menggarisbawahi pentingnya kuliah filsafat dewasa ini. Dalam buku Philosophy, Theory and Practice, (1985) Thiroux menyebut paling kurang empat manfaat filsafat:
Pertama, filsafat menjadikan orang lebih sadar dan kreatif. Berfilsafat berarti mempertanyakan segala sesuatu, termasuk keyakinan dan teori. Dengan demikian, orang jadi lebih sadar akan diri, orang lain, dan lingkungan. Orang jadi lebih berkembang, wawasan observasi dan kontemplasi bertambah, dan orang belajar untuk berfikir dan bertindak lebih kreatif.
Kedua, filsafat menumbuhkan sikap toleran. Dengan selalu mempertanyakan keyakinan dan teori, termasuk teori sendiri, orang makin menyadari betapa sulit dan kompleksnya masalah-masalah kehidupan. Suatu teori atau keyakinan tidak dapat memberikan jawaban memuaskan untuk mengatasi persoalan hidup. Dengan demikian, orang belajar menghargai teori dan keyakinan orang lain. Pandangan kita dan pandangan orang lain, yang memang berbeda, bisa saja menawarkan jalan keluar yang baik. Singkat kata, belajar filsafat membuat kita toleran terhadap perbedaan.
Ketiga, filsafat memberikan metode sistematis untuk menyelesaikan persoalan-persoalan. Filsafat mengajarkan bagaimana menyusun argumen yang valid, bagaimana menghindari logical fallacies. Dengan kata lain, filsafat mengajarkan bagaimana bernalar secara logis.
Keempat, filsafat membuat kita jadi lebih konsisten. Jika kita mempertanyakan sesuatu secara mendasar, menganalisis, dan mengevaluasi segalanya secara cermat, kita akan menjadi lebih konsisten dalam kehidupan. Bertanya, menganalisis dan mengevaluasi bertujuan memperoleh konsistensi sehingga kita menghadapi kehidupan dan permasalahannya secara rasional dan teratur. Hidup tidak cukup dihadapi dengan reaksi spontan tanpa memiliki prinsip-prinsip dasar sebagai acuan. (Thiroux: 1985).
Woodhouse, dalam Berfilsafat, Sebuah Langkah Awal (edisi Indonesia, 2000) mengatakan filsafat membuat orang semakin mandiri secara intelektual, lebih toleran terhadap perbedaan sudut pandang, dan bebas dari dogmatisme. Lebih lanjut Woodhouse mengatakan:
Pertama, sikap-sikap itu dapat berkembang karena luasnya kajian filsafat. Misalnya terhadap pertanyaan apakah yang menjadikan tindakan yang benar itu benar? bisa diberikan macam-macam jawaban, seperti kebahagiaan, kepentingan pribadi, kelangsungan hidup spesies manusia, desakan suara hati, dll. Meski jawaban-jawaban itu sepintas dapat diterima, tidak ada satu jawaban yang mutlak harus diterima. Kita tahu bahwa sudut pandang orang yang memberikan jawaban itu mungkin tidak masuk akal, tapi didukung argumen yang kuat. Hal ini bisa membuat kita frustrasi atau justru sebaliknya, membebaskan kita. Kesadaran akan hal ini membuka pintu bagi kita untuk bersikap toleran dan bebas dari dogmatisme.
Kedua, filsafat memberikan kebebasan intelektual dan sikap-sikap lain yang terkait. Misalnya, dalam kuliah Pengantar Ilmu dikatakan bahwa ilmu didasarkan pada prinsip determinisme (pandangan bahwa segala peristiwa memiliki sebab). Dalam kuliah Sosiologi dan Antropologi diajarkan bahwa tiap kebudayaan memiliki moral berbeda-beda, sehingga benar dan salah adalah soal suka atau tidak suka. Dalam kuliah Kesenian dikatakan bahwa tidak ada kriteria untuk membedakan seni yang baik dan buruk. Semuanya tergantung pada si penikmat seni. Semua pernyataan di atas sering diterima begitu saja sebagai kebenaran, tanpa sikap kritis. Filsafat mendorong kita untuk menguji dan mempersoalkan kembali dogma-dogma yang telah dianggap benar. Dengan demikian kita mengambil sikap dan menentukan pendirian terhadap suatu masalah.
Ketiga, filsafat memungkinkan kita memberikan penilaian kritis. Tujuan kuliah filsafat bukan sekadar meninjau berbagai teori, tapi juga menilainya secara kritis. Sikap kritis berarti tidak menerima sesuatu begitu saja. Filsafat bukan sekedar mengisi kepala dengan fakta-fakta, tetapi membentuk pemikiran. (Woodhouse: 2000).
Singkatnya, manfaat (belajar) filsafat adalah agar kita menjadi kritis. Filsafat adalah ilmu kritis karena dengan ketajaman rasio mempelajari inti hakikat seluruh realitas. Bersikap kritis berarti terus-menerus bertanya sampai ditemukan penjelasan yang paling dalam. Bersikap kritis berarti memandang sesuatu dari berbagai perspektif. Itulah pertimbangan utama mengapa filsafat dimasukkan dalam kurikulum perguruan tinggi. Seorang intelektual atau akademisi adalah orang yang berfikir kritis. Kalau ilmu-ilmu lain berusaha menjawab masalah yang timbul, filsafat mempermasalahkan jawaban yang diberikan.
Dengan bersikap kritis, orang sanggup menempatkan ilmu dalam perspektif lebih luas. Dengan bertanya sampai ke hakikat, orang dapat memberikan pendasaran rasional terhadap hakikat eksistensi. Dengan bertanya terus-menerus, orang dapat memberikan pendasaran rasional bagi iman. Dengan bertanya tak henti-hentinya, orang dapat melakukan kritik terhadap ideologi. Dan, dengan bertanya sampai ke inti hakikat terdalam, orang dibantu untuk memecahkan masalah-masalah etis yang disebabkan pesatnya perkembangan ilmu, seperti di bidang kedokteran, teknologi, penjelajahan antariksa, dan lain-lain.

0 komentar:

Posting Komentar

 
;